Sabtu, 10 Agustus 2019

Merindu Sungai Bersih

Sungai Cisewu, Garut (Dokumentasi pribadi)

Saya tidak menyangka menemukan aliran sungai yang masih jernih dalam perjalanan Ranca Buaya-Bandung. Ini mengingatkan pada masa kecil saya yang masih sering bermain dan mandi di kali.

Sungai kini ibarat tong sampah raksasa. Tak hanya di kota bahkan juga telah merembet di pedesaan, kampung halaman saya di Klaten. Saya pernah menulis tentang sungai berjudul, "Aku Bukan Keranjang Sampah".

Lebih pedihnya lagi, sungai juga menjadi tempat buangan limbah yang gratis. Belum lama ini, tak jauh dari tempat tinggal saya terjadi penggrebekan terhadap peternakan babi yang membuang limbahnya ke Kali Dengkeng. Meski peternakan tersebut belum dikatakan berskala besar tapi limbahnya telah menganggu ekosistem sungai.

Ekosistem Sungai yang Sehat

Kali Dengkeng, Klaten (Dokumentasi pribadi)

Sungai bukan saja tentang air yang mengalir tapi merupakan sebuah biota yang terdiri dari beragam flora dan fauna. Sungai merupakan tempat hidup ikan air tawar yang memiliki protein tinggi seperti nila, lele, sarden air tawar, kakap putih, dan berbagai ikan tawar lainnya. Ikan merupakan sumber vitamin D, mengandung asam lemak Omega 3, dan selenium yang baik bagi kesehatan manusia.

Habitat ikan yang terganggu berarti menganggu kecukupan nutrisi yang dibutuhkan manusia. Dalam hidupnya, ikan membutuhkan air yang kaya oksigen dan banyak terdapat plankton. Ketersediaan oksigen dan plankton terancam akibat pencemaran lingkungan baik dari sampah rumah tangga mapun lingkungan.

Mengutip Kompas, berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di tahun 2015 hampir 68 persen mutu air sungai di 33 provinsi di Indonesia dalam status tercemar berat.

Kemudian, jika Asian Development Bank tahun 2008 pernah menyebutkan pencemaran air di Indonesia menimbulkan kerugian Rp 45 triliun per tahun. Bagaimana dengan sepuluh tahun kemudian atau menjelang tahun 2020 ini? Angka tersebut belum termasuk pada kehilangan keanekaragaman hayati yang dapat menjadi sumber nutrisi dan pangan bagi manusia.

Konservasi Sungai

Sungai Cikapundung, Bandung (Dokumentasi Pribadi)

Normalisasi sungai tidak melulu terkait menanggulangi banjir. Karena sudut pandang yang cenderung subyektif, penanganan sungai acap mengabaikan aspek lingkungan.

Undang-undang Nomor 38 tahun 2011 tentang sungai telah mengatur garis batas sempadan sungai. Sempadan sungai merupakan kawasan lindung untuk mempertahankan kelestarian lingkungan.

Misalnya, sungai tidak bertanggul di perkotaan dengan kedalaman kurang lebih tiga meter memiliki garis sempadan sungai setidaknya 10 meter di tepi kiri dan kanan sungai. Sayangnya, garis sempadan sungai atau daerah batas mendirikan bangunan kerap dilanggar. Tentu hal ini menjadi "PR" bagi lintas sektor seperti pemukiman, lingkungan hidup, pekerjaan umum, hingga balai besar sungai.

Tak sedikit terutama di perkotaan bangunan yang mepet ke sungai. Dulu Sungai Ciliwung di Jakarta memiliki badan sungai hingga 40 meter tapi kini hanya tersisa sekitar enam meter. Kekurangtegasan aparat sejak awal menjadikan oknum-oknum yang tak bertanggung jawab menempati kawasan lindun bahkan di bantaran banjir. Sehingga tidak aneh jika daerah sekitar Ciliwung sering terendam banjir. Sebab, sebenarnya mereka memang tinggal di sungai. Jadi, sudah seharusnya mereka tidak menyalahkan sungai.

Pembangunan tepi sungai sebagai tempat wisata mungkin bagus. Tapi sebenarnya tanpa aturan yang ketat ini mengorbankan keanekaragaman hayati. Pembetonan kiri kanan akan mematikan flora dan fauna sungai termasuk mikroba. Kematian flora dan fauna tentu akan menganggu rantai makanan. Bisa jadi akan meledakkan populasi hewan tertentu yang bisa jadi merugikan manusia karena kehilangan predator alami.

Pembetonan akan mengurangi daerah tangkapan air. Resapan yang berkurang akan membuat air mencari jalannya sendiri sehingga banjir maupun genangan tak dapat dihindarkan.

Sudah saatnya kita memperlakukan sungai dengan bijak. Sungai sebagai warisan untuk anak cucu jangan hanya sekedar jargon. Tapi memang warisan sesungguhnya, karena sungai merupakan sumber ketersediaan air bersih dan kebutuhan nutrisi pangan yang vital bagi kehidupan. Sungai juga merupakan penyangga kehidupan dari bencana banjir.



Referensi:
Berbagai Masalah Kesehatan Akibat Pencemaran Air di Indonesia. www.hellosehat.com dipublikasikan 4 Januari 2019
Kaya Nutrisi, Ikan Air Tawar ini Bisa Jadi Alternatif Pilihan Menu Ikan. www.kkp.go.id dipublikasikan 29 November 2018
Pencemaran Air di Indonesia. www.bulelengkab.go.id dipublikasikan 08 Mei 2019