Selasa, 18 Juni 2019

Jejak Gedung Setan "Freemasonry" di Bandung

Gedung Setan - Loge Sint Jan (Sumber: ayobandung.com)

Saya tak menyangka jika di lahan yang ditempati Masjid Al Ukhuwah sekarang ini pernah berdiri kokoh "Gedung Setan". Sebuah bangunan yang bernama Loge Sint Jan atau Loji St. Jan.

Perbedaan bahasa dan masalah spelling menyebabkan penduduk waktu itu mendengar pengucapan Sint Jan menjadi setan. Anggapan "Gedung Setan" justru diperkuat karena dari dalam bangunan kerap terdengar suara ritual aneh.

Sayangnya, tidak ada bekas reruntuhan sama sekali mengenai loji ini. Loji St. Jan dihancurkan pada tahun 1961 seiring pelarangan Soekarno terhadap organisasi ini.

St. Jan merupakan loji (loge) ke -13 yang dibangun di Hindia Belanda. Konon di atas gedung terdapat simbol mata satu sebagai ciri Freemasonry. Namun, kemudian diubah menjadi siku-siku dan jangka yang menandakan moralitas dan ketaatan kerja.

Di Sint Jan juga pernah dibuka perpustakaan umum De Openbare Bibliotheek van Bandoeng. Koleksi pada tahun 1897 terlengkap dengan jumlah 2.500 buku. Banyak pengikut Soekarno yang berkunjung ke perpustakaan ini. Melalui koleksi perpustakaan ini presiden pertama Indonesia merampungkan karyanya “Indonesia Menggugat” semasa penahanan di Penjara Banceuy. Kemudian saya menjadi bertanya, jika karyanya selesai berkat koleksi perpustakaan milik Freemasonry lalu kenapa beliau membubarkan organisasi ini? 

Dulu, bangunan ini merupakan tempat berkumpulnya para anggota gerakan Vrijmetselarij atau Freemasonry. Freemasonry merupakan organisasi rahasia yang masuk ke Hindia Belanda dibawa oleh pejabat VOC. Pembawanya seorang Belanda bernama Jacobus Cornelis Mattheus pada tahun 1736.

Banyak spekulasi mengenai organisasi ini, namun berkat mengikuti Ngaleut Freemasonry bersama Komunitas Aleut Bandung, 16 Juni 2019 saya berjumpa dengan saksi hidup Freemasonry. Berdasarkan penuturan Ibu Suyati (91 tahun) yang merupakan anggota dan sempat menjabat sebagai sekretaris Freemansory, Freemasonry artinya tukang batu yang bebas (mason dalam bahasa prancis berarti tukang batu). Maknanya membangun jiwa orang dengan bebas bukan karena suku maupun agama. Tujuannya memahami arti hidup dan mampu menghargai orang lain.

Bersama Komunitas Aleut Bandung (Koleksi Pribadi)


Bersama Ibu Suyati (Koleksi Pribadi)
Untuk bisa menjadi anggota Freemasonry harus orang terpelajar sehingga kelompok ini dikenal sebagai kumpulan para intelektual. Di antaranya harus mengetahui bahasa Inggris, Belanda, kemudian bertambah Indonesia. Jika kita kembali ke "suara-suara aneh" yang didengar di depan “Gedung Setan” mungkin sebenarnya hanyalah mendengar bahasa asing. Seperti pertama kali saya sebagai orang Jawa mendengar bahasa Sunda atau mendengar turis bercakap-cakap dengan bahasa ibu mereka.

Pemahaman bahasa penting sebagai bagian dari ritual yang akan dilakukan. Ritual ini semacam sumpah jabatan yang dilakukan sesuai bahasa dan agama masing-masing anggota. Lalu kenapa anggota Freemasonry dianggap ateis jika setiap ritual menyesuaikan agama masing-masing?

Lambang Freemasonry (Sumber: Wikipedia)

Terkait lambang siku-siku dan jangka yang menggantikan lambang sebelumnya karena kedua benda tersebut menggambarkan atau lebih identik dengan tukang kayu. Secara filosofis, saya teringat kembali ucapan Ibu Suyati, untuk memperoleh hasil harus berusaha dan bekerja keras dalam meraihnya.

Kini tidak tersisa lagi Loji Sint Jan yang berdiri tahun 1896 tersebut. Bangunan bergaya neo classic dengan ciri berpilar-pilar di bagian depan dengan bentuk segitiga di atasnya. Bangunan yang pernah menjadi saksi bisu diadakannya ritual pengangkatan Sumitro Kolopaking. Seorang bumiputera pertama yang menjadi grandmaster Freemasonry.

Namun untuk menelusuri jejaknya tak ada salahnya mengunjungi Masjid Al Ukhuwah. Ukhuwah berasal dari bahasa Arab akhun yang berarti saudara. Menurut pegiat Komunitas Aleut, makna ini senada dengan Freemasonry yang merupakan kelompok persaudaraan.

Masjid Al Ukhuwah (Koleksi Pribadi)
Masjid Al Ukhuwah (Koleksi Pribadi)
Lokasi Masjid Al Ukhuwah berada di Jalan Wastukancana atau di seberang Balai Kota Bandung. Namun jika penasaran ingin mengetahui bentuk asli St. Jan mirip dengan bekas Loge de Vriendschap di Surabaya yang kini menjadi kantor BPN.

Gedung BPN Surabaya ex Loge de Vriendschap (Sumber: merdeka.com)
Silakan tag atau mention saya di media sosial jika Kalian berkunjung ke sana ya^^


Buku Rekomendasi jika ingin memahami lebih dalam tentang Freemasonry:
1. Okultisme di Bandoeng Doeloe, karya M Rizky Wiryawan
2. Novel The Jacatra Secret, karya Riski Ridyasmara
*Saya belum membaca kedua buku tersebut. Untuk buku Okultisme sering digunakan sebagai bahan rujukan (nonfiksi). Untuk novel menurut yang sudah baca isinya masih banyak spekulasi (sejarah-fiksi) tapi kalau baca sinopsisnya sepertinya bagus dan masuk ke book wishlist. 


Referensi:
Freemasonry. Wikipedia terakhir diubah 16 Juni 2019 pukul 06.18
Lima Jejak Freemason di Bandung. Dipublikasikan ayobandung.com Selasa, 20 Februari 2018
Loge de Vriendschap Surabaya, Tempat Ritual Menir Belanda. Dipublikasikan merdeka.com Sabtu, 23 Juni 2012 Pukul 09.24

Tidak ada komentar: