Selasa, 02 Juli 2019

Kisah Saidjah dan Adinda – Max Havelaar


Pertama kali mengetahui Kisah Saidjah dan Adinda sewaktu ujian Bahasa Indonesia, tapi lupa ujian SMP atau SMA? Sejak itu penasaran sekali dengan kisah yang ditulis oleh Multatuli ini.

Multatuli merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker (1820-1887). Diambil dari Bahasa latin yang berarti yang telah banyak menderita. Bagi yang tertarik mempelajari sejarah lahirnya Bangsa Indonesia tentu tidaklah asing dengan namanya. Sebab, gagasannya mempelopori gerakan antikolonial di Hindia Belanda.

Akhirnya tahun 2015, saya menemukan buku Max Havelaar saat berkunjung ke Toga Mas. Buku yang saya beli merupakan cetakan kelima Penerbit Qanita, untuk cetakan pertama Mei 2014.

Ternyata saya membutuhkan waktu yang panjang sekali untuk menyelesaikan membaca keseluruhan buku ini. Hampir empat tahun wkwkwk

Max Havelaar (Dokumentasi Rina Darma)

Judul: Max Havelar
Diterjemahkan dari Max Havelaar: Or the coffee Auctions of the Dutch Trading Company
Karya Multatuli
Terbitan Edinburgh, Edmonston & Douglas, 1868
Penerjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit Qanita Bandung
480 h.; 20,5 cm
ISBN 978-602-1637-45-6

Karena terbiasa dengan gaya membaca cepat, awalnya saya agak kesulitan mengikuti alur cerita Max Havelaar. *salahsatu alasan buku ini mangkrak di tengah jalan dan tergoda meninggalkannya demi buku yang lain*.

Buku ini diceritakan melalui sudut pandang Tuan Batavus Droogstoppel, seorang makelar kopi yang kebetulan bisnis kopinya sedang lesu. Tuan Droogstoppel mendapatkan paket salinan cerita dari Tuan Sjaalman, kawan sekolahnya dulu.

Namun diceritakan Tuan Droogstoppel ini tidak suka menulis novel, membaca pun tidak karena ia seorang pebisnis. “Laporan Mengenai Penanaman Kopi di Karesidenan Menado” dalam berkas paket membuatnya mulai tertarik dengan isi paket. Baginya sebagai seorang makelar kopi di Lauriergracht No. 37, “Menado” adalah merek kopi yang bagus (hal. 58).

Dibantu oleh Tuan Ernest Stern putra dari Tuan Ludwig Stern, pedagang kopi terkemuka di Hamburg dan pelanggan Last & Co, milik Tuan Droogstoppel. Stern adalah lelaki pintar dan berbakat di bidang sastra seperti orang Jerman pada umumnya (hal.63).

Cerita inti baru dimulai dari Bab 5, tentang kedatangan Max Havelaar sebagai Asisten Residen baru di Lebak (Banten Kidul) tahun 1856 menggantikan asisten residen sebelumnya yang meninggal. Bupati Lebak, Raden Adipati Kartanegara yang berusia tua turut menyambut meski harus menempuh jarak sekitar duapuluh kilometer dari kediamannya di Rangkas Bitung (hal. 78).

Residen mewakili kekuasaan Belanda di mata penduduk Jawa (Pulau Jawa) yang tidak mengenal Gubernur Jenderal dan pemerintahan di Batavia. Karesidenan dibagi menjadi tiga sampai lima departemen atau kabupaten yang masing-masing dikepalai oleh asisten residen. Asisten residen dibantu oleh seorang pejabat pribumi berkedudukan tinggi yang bergelar bupati (hal. 81).

Di Lebak, Max Havelaar tinggal bersama istrinya Tine dan anaknya Max kecil. Dalam menjalankan tugasnya dia dibantu Tuan Pengawas Verbrugge dan Letnan Duclari, Komandan Garnisun kecil di Rangkas Bitung. Selain itu, pada Bab 6, panjang sekali (berlembar-lembar) dijelaskan karakter Max Havelaar. Di antaranya dia jujur dan memiliki harga diri yang tinggi. Havelaar digambarkan sebagai sosok yang tidak pandang bulu dan gemar membantu seperti tidak mempermasalahkan Madam Slotering, janda asisten residen sebelumnya tetap tinggal di bangunan sebelah kediamannya dengan alasan menunggu hingga persalinan. Madam Slotering memiliki kebiasaan aneh tidak suka orang memasuki pekarangannya.

Tanpa basa-basi, Havelaar langsung bekerja. Ia mulai memeriksa jumlah pajak yang dalam 12 tahun hanya naik 11 persen. Data statistik pun tidak akurat. Di sisi lain, pada Bab 7, dikisahkan Max Havelaar yang meninggalkan banyak hutang di Eropa selama masa cuti dan biaya perjalanan ke Hindia Belanda.

Bab 8, Havelaar mulai terusik dengan laporan palsu Bupati. Bupati memperkerjakan tiga kali lipat jumlah pekerja di kota dengan berbagai pejabat daripada jumlah yang diizinkan dalam peraturan. Hidup mewahnya tidak sesuai dengan penghasilannya kecil. Sebab, Lebak tidak cocok untuk perkebunan kopi yang dapat memberinya penghasilan tambahan. Mengenai keganjilan ini, Tuan Slotering lewat salinan kasar yang dibaca Havelaar memberi tanda seru pada dua hal terakhir. 1) Mengenai penanaman padi. 2) Mengenai rumah para kepala desa. 3) Mengenai pengumpulan pajak tanah (hal. 175).

Bab 9-10, intermezo (menurut saya). Tuan Droogstoppel menyadari tak ada cerita tentang kopi karena tanah Lebak tidak cocok. Ia menganggap paket Tuan Sjaalman sebagai kuda troya.
“Kau bebas melewatkan bab-bab yang punya cita rasa kegembiraan Jerman, dan hanya membaca apa yang ditulis olehku, karena aku lelaki terhormat dan makelar kopi.” (hal. 185).

Max Havelaar dan Kisah Penskoran di Padang

Bab 11 masih bersetting di kediaman Max Havelaar di Lebak bersama Verbrugge, Duclari, dan Tine. Akan tetapi cerita flashback ke masa saat Havelaar bertugas sebagai pengawas di Natal (Sumatra Utara) tahun 1842. Tugasnya menginspeksi kebun lada di Teluk Balai, utara Natal.

Dalam bab ini, ia dikisahkan kecewa dengan Residen karena usulnya untuk membuka Pelabuhan Natal yang dapat mendatangkan perdagangan ke dalam Distrik Natal yang menghubungkan Distrik Batak dengan lautan belum disetujui. Residen tidak akan mengusulkan kepada pemerintah kecuali ia sudah tahu sebelumnya jika usulan tersebut menyenangkan (hal. 230).

Kemudian, Bab 12-13 menceritakan tentang perjalanan Havelaar ke Padang yang diperintahkan oleh Gubernur. Saat itu di Natal sedang terjadi kasus hilangnya anak dan pengawas hendak menyelidikinya. Setibanya di padang, Havelaar justru diskors karena dituduh lalai. Ada ketidakakuratan dan kekurangan dalam pembukuan di Natal.

Merasa tidak terima, Havelaar menulis surat kepada Yang Mulia. Majelis Pengadilan bingung mengambil keputusan karena kejahatan di daerah tidak bisa diproses tanpa izin Pemerintahan Batavia. Havelaar ditahan selama sembilan bulan di Padang saat usianya masih 23 tahun.

Di akhir Bab 14 membahas banyak laporan palsu, kalau kata saya mirip prinsip ABS “Asal Bos Senang”.  Pemerintah lebih suka memecat 10 residen dibanding seorang bupati karena alasan politik. “Bagaimanapun pemerintah menyetujui walaupun dengan sangat enggan, penerapan peraturan-peraturan yang seakan melindungi orang Jawa terhadap pemerasan dan perampasan”. (hal . 308).

Setelah itu, Bab 15, kisah kembali kepada banyaknya keluhan terhadap Bupati Lebak. Namun Residen tidak mau mendengar. Keluhan ketidakadilan dilengkapi dengan kisah Bupati Lebak yang (sebenarnya) miskin akan dikunjungi Bupati Cianjur, masih keponakannya. Bupati Lebak yang menganggap diri sebagai kakak Havelaar meminta bantuan perjamuan terhadap rencana kunjungan ini.

Akhirnya Sampai pada Kisah Saidjah dan Adinda

Rasa penasaran saya terhadap buku ini akhirnya terjawab dengan disebutnya kisah Saidjah dan Adinda di Badur pada hal 343. Ini kasus pemerasan dan perampokan. Havelaar menolak jika cerita ini dianggap khayalan. Ia bisa menyebutkan nama ketiga puluh dua orang di Distrik Parang Kujang saja, yang dalam satu bulan dicuri kerbaunya sebanyak 36 untuk digunakan oleh Bupati (Bab. 16).

Namun, rasa penasaran baru terjawab mulai Bab 17. Diceritakan Ayah Saidjah memiliki kerbau yang dirampas darinya oleh Pejabat Distrik Parang Kujang. Saat itu musim membajak sawah sudah dekat. Ia khawatir akan terlambat membayar pajak tanah karena melanggar hukum.

Ayah Saidjah memutuskan menjual keris pusaka dari ayahnya untuk seekor kerbau baru. Saidjah baru berumur tujuh tahun saat “bersahabat” dengan kerbau baru. Dua tahun kemudian, kerbau kembali dirampas. Ayah Saidjah yang sangat miskin menjual dua pengait kelambu perak pusaka dari ayah istrinya dan kemudian membeli kerbau baru.

Kerbau tersebut segera kembali menjadi sahabat Saidjah tapi karena sudah tua tak sehebat kerbau pendahulunya. Ia tak bisa terlalu membanggakan saat bermain di sawah bersama temannya termasuk Adinda yang tiga tahun lebih muda darinya. Sawah Ayah Adinda berbatasan dengan sawah Ayah Saidjah.

Saat berumur 12 tahun, kerbau kembali dirampas dan disembelih…

Karena sudah tidak ada peninggalan yang bisa dijual, ayah Saidjah menggunakan kerbau sewaan. Hal tersebut sangat menyedihkan. Ibu Saidjah meninggal. Ayahnya kemudian kabur ke Buitenzorg untuk mencari pekerjaan. Namun, naas ia dihukum cambuk karena tidak memiliki surat jalan dan dikembalikan ke Lebak untuk dipenjara. Ayah Saidjah meninggal.

Saat ayahnya kabur, Saidjah berumur 15 tahun. Ia tidak menemani ayahnya karena ingin ke Batavia. Dia mendengar jika di Batavia ada banyak tuan yang mengendarai bendi dan akan mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai kacung-bendi.

Dia pergi ke rumah Adinda dan menceritakan rencananya. Ia mengatakan akan pergi selama tiga tahun dan setelah itu akan kembali untuk menikahi Adinda. Karena Adinda tidak mengetahui hitungan tahun, Saidjah menyuruhnya membuat takik pada lesung penumbuk padinya setiap bulan baru muncul sebanyak 36 kali.

“Tunggulah aku di hutan jati, di bawah pohon ketapang tempat kau memberiku bunga melati.” – hal. 374.

Saidjah sukses di Batavia. Angannya sukacita dipenuhi bayangan Adinda yang akan segera ditemuinya. Namun, Adinda tak pernah datang ke bawah pohon ketapang.

Saijdah ke Desa Badur, tapi rumah Adinda sudah tidak ada. Ia mencari-cari bekas rumah Adinda. Kemudian ia berusaha mencari keberadaan lesung. Ia menemukan pemilik lesung baru dan langsung melihat terdapa takik lesung sebanyak 32 buah. Ibu dan adik Adinda meninggal karena sedih kerbau-kerbau Ayah Adinda dirampas.

Ayah Adinda mengajak Adinda kabur karena tidak membayar pajak tanah ke Cilangkahan bagian Lebak yang berbatasan dengan laut. Saidjah kemudian bergabung dengan sepasukan lelaki Badur, dari Cilangkahan ia bergabung dengan pemberontak yang sedang menentang Belanda di Lampung. Ia bergabung bukan untuk bertempur tapi mencari Adinda.

Ketika pemberontak telah dikalahkan, Saidjah berkelana ke desa yang baru saja direbut tentara Belanda dan karenanya masih terbakar. Di antara rumah-rumah terbakar, ia menemukan mayat ayah Adinda dengan luka bayonet di dada. Di dekatnya terdapat mayat tiga adik laki-laki Adinda yang masih muda. Sedikit lebih jauh tergeletak mayat Adinda dengan teraniaya mengerikan.

Sorak sorai riuh di Batavia atas kemenangan tersebut. Gubernur menulis laporan bahwa kedamaian telah dipulihkan di Lampung.

Havelaar Mencari Keadilan

Alasan dibalik Madam Slotering menjaga ketat rumahnya terungkap (Bab 18). Didesak Havelaar, ia mengaku jika suaminya telah diracun di rumah pejabat di Distrik Parang Kujang. Dengan nuraninya, Havelaar menulis surat kepada Residen Banten Tuan Slijmering. Isinya agar menggali mayat pendahulunya dan diperiksa secara ilmiah setelah itu Bupati dipecat dan pengikut-pengikutnya diamankan (hal. 408).

Tuan Slijmering menganggap Havelaar menganggu. Jelas, lelaki itu sibuk menulis laporan tahunan mengenai KEDAMAIAN YANG DAMAI.  

Bab 19-20, memberitahu upaya yang dilakukan Havelaar. Di bagian ini banyak salinan surat Havelaar termasuk kepada permohonannya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia saat itu. Havelaar mendapat mutasi ke menjadi Asisten Residen di Ngawi tapi menolak dan memilih pemecatan sukarela.

“Harapannya sia-sia. Gubernur Jenderal berangkat tanpa mendengarkan Havelaar… Satu lagi orang Yang Mulia telah pensiun ke tanah airnya untuk beristirahat!” hal. 460
---

Rasanya saya masih ingin berkomentar banyak tapi sewaktu melihat jumlah kata di word ternyata sudah 1.500 lebih. Menurut saya buku ini pantas juga disebut sebagai tonggak sastra modern di Belanda setelah hampir 200 tahun disebut tidak mengalami perkembangan berarti.

Selain cerita yang telah saya uraikan di atas (maaf jika spoiler), kekayaan pengetahuan tentang sasta yang dimiliki Multatuli keren sekali. Ia banyak mengutip sastra penulis besar di zamannya. Kemudian, saya paling suka dengan tuturnya tentang perumpamaan dan kedetailannya menyampaikan, seperti saat menggambarkan ular dan perjuangan semut.

Di penghujung buku, ia menulis,
“Buku ini campur aduk; tidak beraturan, hanya ingin mengejar sensasi. Gayanya buruk; penulisnya tidak berpengalaman; tidak berbakat, tidak punya metode,” hal. 462.
*Saya ketawa, karena kurang lebih ya memang seperti itulah kesan saya terhadap buku ini ketika membacanya.*

Di bagian akhir, pembaca juga akan dikejutkan, Siapakah Tuan Sjaalman itu?

*Buku ini recommended bagi yang suka politik dan sejarah, sastra juga terutama sih.

Penasaran juga nih kalau kesan Kalian terhadap buku Max Havelaar ini bagaimana? Ohya, kalau Kalian sependapat dengan Pramoedya Ananta toer gak yang menyebut jika kisah di buku ini “membunuh” koloniasme? Silakan tinggalkan tanggapan di kolom komentar atau mention via media sosial juga boleh kok. Feel free…^^





Tidak ada komentar: